Memiliki Simbol Unik
Keunikan meriam ini terletak di pangkal meriamnya, di sana terdapat kepalan seperti kepalan Bima kepalan tangan kanan dengan jempol dijepit oleh jari telunjuk dan jari tengah. Selain itu, di bagian punggung meriam ini terdapat tulisan latin “EX ME IPSA RENATA SUM”—yang kurang lebih berarti: “Dari diriku sendiri, aku dilahirkan lagi”.
Konon, Meriam Si Jagur ini mempunyai kekuatan mistis yang luar biasa. Ketika meriam ini masih tergeletak di dekat kota Intan, meriam ini banyak dikunjungi peziarah. Paling banyak peziarah itu adalah kaum perempuan. Umumnya, mereka berharap diberi kesuburan. Tetapi juga ada peziarah laki-kali yang merasa dirinya mandul. Konon kabarnya, usai berziarah dan memohon pada meriam ini, para pemohon akan segera mendapat keturunan. Di sekitar Meriam Si Jagur itu sering dipenuhi kembang dan kemenyan. Namun, ketika—pada tahun 1968—dipindah ke depan Museum Wayang, peziarah mulai berkurang. Lalu, pada tahun 1974, meriam “Si Jagur” itu dipindah lagi ke halaman Museum Fatahillah.
Menurut catatan sejarah, meriam ini dibuat di Makau pada abad ke-16 oleh orang Purtugis bernama N.T. Bocarro. Kemudian meriam itu digunakan oleh Portugis sebagai senjata perangnya di sebuah benteng di Malaka (seakrang sebuah daerah di Pulau Sumatra dekat semenanjung Malaysia) untuk melawan Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC). Setelah Malaka jatuh ke tangan VOC Belanda dan Portugis kalah perang pada tahun 1641, meriam ini diboyong ke Batavia (sekarang Jakarta) oleh VOC. Nama si Jagur kemungkinan karena dulu meriam itu pertama kali diletakkan di benteng Santo Jago de Barra sebelum dipindahkan ke Kota Malaka oleh Portugis.
Akan tetapi, sejak tahun 1810-an Meriam Si Jagur tidak lagi dipergunakan lagi mungkin karena meriam itu terlalu berat untuk dipakai pasukan artileri Belanda. Meski begitu, meriam Si Jagur pernah menjadi senjata paling hebat di masanya. Di pantai Karangantu, Banten, ada juga meriam tua yang dikeramatkan. Namanya Ki Amuk. Ada kepercayaan sebagian orang kala itu, kalau Si Amuk sudah dipertemukan dengan Si Jagur, maka itu pertanda berakhirnya kekuasaan Belanda di Indonesia.